Jakarta:
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan pemerintah tidak akan terburu-buru menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) kendati harga minyak mentah dunia terus melonjak. Harga BBM baru akan dinaikkan setelah semua solusi alternatif telah dijalankan.
”Kenaikan BBM adalah cara terakhir kalau tidak ada lagi cara lain,” kata Presiden pada acara Milad ke-10 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Gelora Bung Karno, Ahad (4/5). Pernyataan itu kontan mendapat tepuk tangan gemuruh kader dan simpatisan PKS.
Sejumlah cara lain untuk mengatasi persoalan kenaikan harga minyak yang memberatkan APBN itu, menurut Presiden, adalah dengan menerapkan langkah diversifikasi, pembatasan, dan penghematan pemakaian BBM. Dia juga meminta masyarakat yang kuat/kaya menolong yang lemah/miskin.
Presiden PKS Tifatul Sembiring, yang memberikan sambutan sebelum Presiden SBY, meminta pemerintah tak buru-buru menaikkan harga BBM kendati situasinya sangat dilematis. ”Kita mengharapkan Presiden SBY dan Wapres JK bersikap arif,” pintanya.
Tifatul mengakui harga minyak dunia yang mendekati 120 dolar AS per barel sangat memberatkan APBN. Tapi, ”Kalau pemerintah menaikkan harga BBM, sekarang saja harga-harga sudah tinggi.”
Mantan ketua DPR, Akbar Tandjung, menilai sikap pemerintah yang tak buru-buru menaikkan harga BBM sudah tepat. Akbar mendukung upaya penghematan. Namun, dia meminta dimulai dari lingkungan pemerintah. ”Masyarakat sudah banyak menghemat,” katanya.
Soal seruan agar masyarakat saling membantu, Akbar menyarankan kebijakan pajak progresif. Khususnya kepada pengusaha batu bara dan kelapa sawit yang sedang menikmati untung besar. ”Pajak dinaikkan dan digunakan buat membantu yang lain.”
Hedging
Selain menaikkan harga BBM, penghematan, pembatasan, dan lain-lain, pemerintah dinilai masih memiliki opsi lain. Salah satunya dengan melakukan upaya lindung nilai (hedging) terhadap harga minyak.
”Bila lindung nilai harga minyak mentah dilakukan, pemerintah dapat memperoleh potensi penghematan APBN sedikitnya Rp 55,2 triliun,” kata Kepala Ekonom Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip, dalam diskusi bertajuk ‘Strategi Hedging Minyak, Solusi Strategis Mengamankan APBN’ di Jakarta, kemarin.
Penghematan didapatkan lewat hedging pada harga beli minyak 95 dolar per barel dan harga jual 117 dolar. Yang penting dalam melakukannya, kata Sunarsip, dipilih institusi keuangan yang kuat dan terpercaya untuk mengurangi risiko gagal bayar (default).
Jika realisasi harga minyak 115 dolar per barel dan hedging beli 95 dolar, terdapat selisih 20 dolar per barel. Jika selisih itu dikalikan konsumsi BBM 35,5 juta kiloliter, potensi penerimaan mencapai Rp 44,59 triliun.
Untuk meminimalisasi risiko, lindung nilai juga mesti dilakukan dari sisi jual (on selling hedging). Dengan menggunakan acuan harga jual 115 dolar per barel dan hedging pada 117 dolar, ada selisih 2 dolar. Jika selisih itu dikalikan lifting minyak 332,15 juta kiloliter, akan didapat Rp 6,045 triliun.
Praktisi keuangan yang berpengalaman di bidang hedging, Helmi K Lubis, mengatakan, jika pemerintah Indonesia melakukan hedging, dapat mendorong harga minyak dunia turun. ”Jika pasar internasional membaca bahwa Indonesia melakukan hedge, pasar melihat Indonesia aman dan dapat membuat harga minyak turun,” katanya.
Kapan ya, bangsa ini menikmati hasil buminya sendiri??, kita semua sudah lama dijajah bangsa asing. Sekarang sedang dijajah bangsa sendiri. Kalau dulu Bung Karno pernah bilang ” Musuh yang paling berat adalah Bangsamu Sendiri”.
Kita berharap Pemerintah lebih bijak dalam mengambil keputusan, karena efeknya akan langsung ke masyarakat. gimana guys ??